26 Agustus, 2008

[resto-indonesia] Martabak Bolu laris manis di ajang kuliner Kraft

Dear All
 
Sewaktu berlangsung acara Serbu Serba Kejumooo yang digelar oleh Kraft di Jakarta, saya sempat bersua dan berbincang dengan Ibu Nadia Damara, pemilik Martabak Bolu (MarBol). Ia begitu sibuk melayani pembeli yang antre di tendanya. Sebelumnya cuma sempat "ngobrol" lewat email. Kebetulan Bu Nadia menjadi anggota milis KoBaMa (Komunitas Bango Mania).  Ia punya trik jitu dalam mempromosikan produk andalannya. Secara berkala, MarBol bagi-bagi martabak gratis kepada anggota KoBaMa yang pas memberikan ilustrasi tentang makanan tersebut. Sudah berpuluh-puluh kotak MarBol ia bagikan kepada Bangoers yang mukim di berbagai kota.
 
 
 
 
Berikut sebuah artikel tentang kiprah bisnis Ibu Nadia Damara di tabloid Saji:
 
 
 
------------------------------------------------------------
 
 
Martabak Bolu Golden Bell: Martabak rasa bolu yang lembut dari Bandung
 
Dulu zaman oma opa kita masih sering nongkrong kayak anak muda, pasti mengenal betul nama Golden Bell. Terlebih jika tinggal di kota Bandung. Sebelum jadi nama merek martabak, Golden Bell dijadikan nama restoran di kawasan Suniaraja, Bandung. Kini nama tersebut "hidup" kembali lewat merek martabak. Bukan martabak sembarang martabak, lo, tetapi martabak unik. Namanya saja Martabak Bolu. Lo, kok, bisa?
 
Martabak karya Surawiria Saputra (38) dan Nadia Damara Saputra (40), memang beda. Perbedaan utama terletak pada kelembutannya. "Martabak kami lembut seperti bolu. Makanya kami namakan Martabak Bolu," terang putri pasangan Jaya Saputra (alm) dan Ratnawati, pendiri resto Golden Bell ini.
 
Perbedaan lain, kalau martabak manis lainnya sarat minyak, yang ini tidak berlumur minyak. Kulit martabaknya pun tipis. Sampai tercipta martabak seperti ini, I Cie, panggilan akrab Saputra, harus bereksperimen cukup lama. "Terutama pada proses pengadonannya. Kalau bahannya, sih, sama saja dengan bahan martabak pada umumnya, terigu, telur, dan susu," jelasnya.
 
Kebetulan I Cie tidak asing dengan komposisi bahan martabak karena sebelumnya pernah berjualan martabak ala Bandung. Namun karena usaha tersebut tidak berlanjut, peralatan pembuatan martabak teronggok begitu saja. Makanya, Nadia menyarankan untuk membuka kembali usaha martabak, tetapi dalam versi lain.
 
Setelah coba sana coba sini, ketemu juga cara pembuatan martabak yang pas. Tetapi kakak beradik ini tak sudi muncul tanpa konsep yang jelas. Maka dipikirkanlah konsep yang pas.
 
"Saya melihat, Bandung banyak dikunjungi turis dari Jakarta dan kota lainnya. Maka saya terpikir untuk membuat martabak yang bisa dijadikan oleh-oleh," kisah Nadia.
 
Nah, supaya pas dijadikan oleh-oleh, martabak tentu harus tahan lama. Maksudnya, tahan lama keempukannya, juga bertahan lama tanpa rusak. Nyatanya Martabak Bolu ini bisa bertahan 3 hari tanpa perubahan rasa dan 1 minggu di dalam lemari pendingin. Satu lagi syarat yang mereka pikirkan. "Sebaiknya, kan, tidak berminyak-minyak supaya terlihat menarik ketika diantarkan kepada orang lain," kata I Cie.
 
Walaupun syarat kedua juga bisa dipenuh, toh, dua syarat itu belum membuat I Cie dan Nadia puas. Masih ada lagi yang dipikirkan. Namannya oleh-oleh, tentu tidak bisa disantap panas-panas. Sesampai di luar kota, pasti sudah dingin. Tampaknya syarat ini bisa dipenuhi juga oleh mereka. Meski sudah dingin, Martabak Bolu tetap sama lembut seperti waktu panas. Bahkan I Cie menjanjikan, martabak garapannya tetap lezat meski disimpan di lemari pendingin. "Kalau sudah dikeluarkan dari lemari pendingin, biarkan saja sebentar dalam suhu ruang, tak perlu dipanaskan. Rasanya tetap enak, kok."
 
Beres soal kendala di martabak, masih ada hal lain yang mereka pikirkan yakni kemasan. Sebagai oleh-oleh, kemasan bukan hanya harus indah dipandang mata, tetapi juga enak ditenteng. Maka terciptalah kemasan persegi panjang yang berbentuk laci. Untuk merek, mereka sepakat diberi nama Golden Bell, untuk mengabadikan nama yang pernah menjadi kebanggaan orang tua mereka.
 
Bagi icip-icip
Untuk mempromosikan Martabak Bolu yang unik ini, Nadia yang memegang urusan marketing, tidak pasang strategi macam-macam. Bahkan juga tanpa gerobak berhias meriah atau spanduk besar. Nadia hanya aktif menawari segenap kerabat dan keluarga, martabak garapan mereka. Bahkan ia tak ragu membagikan Martabak Bolu ini pada hari ulang tahun salah satu anaknya di sekolah.
 
"Pokoknya siapa saja saya kasih icip-icip," tuturnya bersemangat.
 
Tak sampai di situ, Nadia juga rajin mengirimi hotel-hotel di Bandung saat akhir pekan. Kalau perlu, setiap penghuni kamar di hotel tersebut dapat seloyang martabak. "Pokoknya saya tak berhitung soal untung-rugi. Yang penting orang coba dulu martabak saya," terang Nadia
 
Usaha Nadia tak sia-sia. Martabak Bolu yang dirintis 2 tahun lalu ini, mulai melejit sekitar 4 bulan lalu. Pasalnya, di internet Nadia mulai memberanikan diri membuat website khusus martabak ini. Dari tak punya komputer, ia pun tak ragu membeli dan mempelajarinya, termasuk membuat website sendiri. "Pokoknya nekat saja," tuturnya.
 
Di internet pula Nadia yang kreatif ini terinspirasi untuk bergabung di beberapa milis. Di milis ini pun Nadia membuat ide kreatif, dengan menyelenggarakan kuis seputar Martabak Bolu. Misalnya, pertanyaan, apa beda Martabak Bolu dengan martabak biasa. Sontak saja ratusan email merespon kuis yang dibuatnya.
 
"Tujuan saya meningkatkan hits pengunjung yang membuka website saya," terang Nadia yang kemudian mengirimi hadiah Martabak Bolu kepada peserta yang memberi jawaban dengan benar.
 
Kreativitas Nadia dalam berpromosi akhirnya mempopulerkan nama Martabak Bolu Golden Bell meski hanya dijual di garasi rumahnya di kawasan Pasteur, Bandung.
 
Harga per loyang dipatok Rp 30 ribu. Pilihan isinya keju, cokelat, kismis dan kacang atau padu padan di antaranya, sesuai pesanan pembeli. Jenis kacang yang digunakan berupa pasta selai yang sudah diolah kembali agar rasanya lebih enak. Jadi bukan cincangan kacang seperti pada umumnya.
 
Kini mereka bisa menjual tak kurang dari 250 loyang setiap harinya. Pembelinya datang dari luar mana-mana, termasuk dari luar kota seperti Mojokerto, Surabaya, Semarang, Bali, Bogor, Banjar, tegal, Pekalongan, Kebumen, Sragen, Solo, hingga ke luar negeri seperti Singapura, Hongkong, Filipina, dan Belanda. Hebat bukan?
 
Martabak Bolu Golden Bell:
Jl Dangdeur Indah II No 1 (Suryasumantri) Bandung 40163
Telp 08164214477 - (022) 70760391
Saji edisi 20 Agustus 2008
 
 

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
New web site?

Drive traffic now.

Get your business

on Yahoo! search.

Yahoo! Groups

Discover healthy

living groups and

live a full life.

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals

w/ Real Food lovers.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: