18 September, 2008

Re: [resto-indonesia] Bisnis Kuliner dan Baju Baru

Restonya dimana tuh?
 
 
----- Original Message -----
Sent: Friday, September 19, 2008 1:11 AM
Subject: [resto-indonesia] Bisnis Kuliner dan Baju Baru

Bisnis Kuliner dan Baju Baru

    Bisnis kuliner sangat menyenangkan!

Komentar diatas seringkali tercetus dari pemilik bisnis kuliner yang sukses. Apalagi dengan bulan ramadhan ini, omzet rata-rata rumah makan naik 30 hingga 50 persen. Namun, terus terang saya ikut miris melihat beberapa warung/restoran tetap saja sepi, padahal ditempat lain pebisnis lintang pukang mencari tambahan meja dan kursi untuk konsumennya; dan tetap saja harus menolak banyak tamu yang nggak kebagian meja.

Beberapa bulan yang lalu sempat konsep saya tentang FoodFezt dijiplak habis; dari logo yang mirip, tagline, hingga sampai ke apron (celemek) waiter/waitress pun mirip. Makanan yang dijual? Tentunya juga sama, karena 50% tenant pengisinya pun "membajak" dari FoodFezt. Bahkan sebagian orang mengira bahwa restoran ini merupakan cabang dari restoran saya.

    Plagiatisme yang terjadi adalah salah satu parameter bahwa sebuah konsep itu berhasil.

Ada excitement yang sangat tinggi yang memicu adrenalin rush karena saya merasa adanya sebuah kompetitor yang memacu agar bisa selalu lebih baik dalam hal apapun. Narsisme saya juga ikut terdongkrak, karena salah satu parameter bahwa sebuah konsep itu berhasil adalah karena ada yang meniru.

Sayang, ternyata keadaan itu tidak berlangsung lama karena hanya dalam waktu tiga bulan "kompetitor" (kita sebut saja X) tersebut tutup. Sungguh saya merasa sedih, karena perasaan "dikejar dalam jarak dekat" itu hilang.

Seorang teman bertanya pada saya, apakah penyebab dari kegagalan si X tersebut. Dia bilang bahwa segala syarat untuk sebuah restoran yang sukses sudah dipenuhi, yaitu:

1. Lokasi yang strategis
2. Makanan yang enak
3. Lahan parkir yang cukup luas
4. Value added Service (wi-fi, live music etc)

Analisa saya adalah bahwa kesalahan kompetitor tersebut adalah bahwa dia memakai bekas bangunan yang tadinya merupakan restoran yang sudah tidak laku dan tutup. Tentunya ada beberapa hal lain yang ikut berperan, tapi saya berpendapat bahwa kesalahan terbesarnya adalah menggunakan bangunan "bekas".

    Baju baru dipakai orang lama.

Meminjam istilah rekan saya yang lain; si X tersebut seakan-akan hanya "orang lama" yang berganti dengan "baju baru" tapi sayang bajunya tersebut jelek dan kusam, jadi konsumen hanya akan melirik sepintas tanpa ada keinginan untuk mampir.

"Saya tidak pernah tau tuh pernah ada restoran disitu tuh sebelum X berdiri.. Bagaimana bisa kamu menyimpulkan bahwa X tersebut gagal karena tadinya bekas restoran yang tutup karena nggak laku?"

Itu pertanyaan berikutnya yang disampaikan ke saya, sekaligus menyanggah analisa kecil-kecilan saya. Nah, memang ada akibat turunan lain berasal dari pemilihan lokasi "bekas" tersebut. Mungkin bagi sebagian orang tidak tahu kalau disitu pernah ada restoran, tapi mendapati tiba-tiba saja ada restoran disitu.

    There's nothing new there.

Itu adalah ungkapan yang tepat menggambarkan restoran tersebut. Orang tidak mendapati hiruk-pikuk pembangunan sebuah bangunan baru, pun ketika terdapat renovasi hanya sekedar di baliho dan tanam-tanaman. Bagi calon konsumen yang tidak tahu apakah tadinya bangunan tersebut, hanya mendapati sesuatu yang "tanggung". There's nothing new there.

Pelajaran yang saya dapatkan, dan sedikit bisa dibagikan untuk orang-orang yang berencana berbisnis kuliner dari pengalaman ini adalah:

    * Hindari membuka sebuah bisnis kuliner di lokasi "bekas" dimana tadinya ada pernah dibuka sebuah bisnis kuliner juga, tapi tutup karena tidak laku. Tentunya ini tidak berlaku jika anda mempunyai brand image yang sangat-sangat kuat.
    * Jika anda terpaksa harus membuka di lokasi "bekas", pastikan adanya perombakan total yang mencolok mata bagi calon konsumen.
    * Komunikasikan kepada calon konsumen bahwa bisnis anda sedang dibangun disitu, tapi jangan terlalu banyak. Iklan terbaik adalah iklan yang membuat calon konsumen penasaran dan ingin tahu lebih banyak.

Seperti biasa, artikel ini saya buat berdasar pengalaman pribadi dan dari point of view subjective saya. Semoga bermanfaat.

Regards,
Andy

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Healthy Living

Learn to live life

to the fullest

on Yahoo! Groups.

Check out the

Y! Groups blog

Stay up to speed

on all things Groups!

Find Balance

on Yahoo! Groups

manage nutrition,

activity & well-being.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: