07 September, 2008

[resto-indonesia] Generasi Kedua Bisnis Kue Basah

Generasi Kedua Bisnis Kue Basah
 
Saturday, 30 August 2008
 
Pengusaha kecil dengan pemikiran besar. Itulah sosok MR Asdwin Noor (32).  Tak seperti sarjana kebanyakan lain,  Alumnus Universitas Airlangga Surabaya ini sejak awal memang memilih menjadi entrepreneur. Kini, bapak tiga anak ini tengah serius membesarkan bisnis keluarga, dengan menyiapkan sistem waralaba untuk toko kue basah yang bermerek Quemama.
Image
 
Ijazah saya aja udah ngilang. Mungkin  ketlingsut  (terselip—Red), nggak tahu juga. Saya memang belum mencari lagi. Sebab, saya juga nggak mau ngelamar (pekerjaan) ke mana-mana," ujar Asdwin Noor membuka percakapan dengan Warta Kota  di toko Quemama di Jalan Kemang Raya, Jatibening 1, Bekasi, beberapa hari lalu.
    
Toko yang berukuran 3 meter x 5 meter tersebut, merupakan jaringan toko Quemama pertama. Dalam waktu dekat, Asdwin akan pasangan membuka toko kedua di Plaza Pondok Gede 2. Rencananya, tahun depan, anak sulung dari keluarga  Saleh A Noor dan Hj Sartje Panigoro Saleh ini akan melakukan ekspansi lagi, dengan membuka 10 toko di berbagai lokasi strategis. 
    
Hj Sartje Panigoro adalah pendiri perusahaan keluarga yang bergerak di bidang jasa boga (katering) itu. Nenek pensiunan Bank BNI itu memulai usahanya dari nol pada tahun 1988. Awalnya, dia hanya iseng membawa kue-kue buatannya ke kantornya di Bank BNI, Jalan Sudirman, Jakarta Pusat.  
     
"Akar usaha bisnis keluarga ini sebenarnya kue, bukan katering. Usaha katering berkembang kemudian. Bisnis katering ini baru berjalan sekitar lima tahun. Awalnya sih karena ada permintaan dari pelanggan," kata Asdwin. 
Menurut dia, usaha katering tersebut melayani pesanan untuk berbagai kegiatan, mulai dari arisan, meeting, seminar, hingga pelatihan. "Klien kami juga relatif banyak. Antara lain PT Bank BNI Tbk divisi SDM, PT Indosat Tbk, PT Medco Energy dan sebagainya," ujar pria yang sebelumnya pernah bekerja di perusahaan migas nasional selama dua tahun ini.
Setelah belasan tahun bergelut dalam bisnis jasa boga, baru dua tahun lalu Hj Sartje Panigoro mengambil keputusan strategis. Dia membuat badan hukum  untuk perusahaan miliknya, berbentuk perseroan terbatas (PT). 
Juga dibentuk perusahaan baru yang khusus bergerak  pada toko kue basah. "Jadi, Quemama ini baru dua tahun berdiri,"ujar Asdwin. 
Dia menambahkan, pembentukan badan hukum tersebut dimaksudkan agar perusahaan yang kini mempunyai 20 karyawan itu dapat bergerak lincah melayani pelanggan yang lebih luas. Dengan berdirinya PT Pandan Nuri Bersama, usaha milik Hj Sartje itu dapat menerapkan prinsip manajemen modern dan profesional sehingga dapat menjadi usaha besar.
    
"Kalau dulu kita hanya melayani pesanan, sekarang kita juga bergerak dalam bidang ritel dan lebih aktif mencari pelanggan dengan menerapkan konsep marketing dan branding," tutur Asdwin semangat.

Ortu tak setuju
    

Asdwin mulai lega karena usaha yang digelutinya telah memiliki jembatan emas yang mempersatukan cita-cita dan semangat pendirinya Hj Sartje, dengan generasi penerusnya. 


Pasangan Saleh Noor dan Hj Sartje memiliki tiga anak. Hj. Sartje sempat menitikkan air matanya karena melihat anaknya bersemangat membesarkan usaha tersebut. "Saya bersyukur pengembangan usaha ini dapat dukungan dari orangtua dan anggota keluarga lainnya," kata Asdwin.
Image    Ia memang pantas bersyukur karena banyak perusahaan katering  yang rontok karena generasi kedua tidak dapat meneruskan usaha keluarga itu.  Beberapa pendiri sukses membangun bisnis, tapi sayang dia tidak bisa mengajari penerusnya untuk melanjutkan bisnis tersebut.
    Dukungan yang diperoleh Asdwin juga bukan datang langit, melainkan lewat proses yang cukup berliku dan memakan waktu. "Awalnya, orangtua juga tidak setuju saya terjun dalam dunia bisnis," ujarnya.
    

Menurut Asdwin, dia bersyukur akhirnya orangtuanya bisa menerima keinginan kuat anak-anaknya. Kuncinya adalah komunikasi. "Soal pensiun, misalnya, saya bilang kepada orangtua bahwa kalau usahanya lebih maju, kami pun bisa menyiapkan sendiri dana pensiun. Jangan khawatir," ujarnya. 

Dukungan keluarga memacu Asdwin untuk makin serius membenahi usaha tersebut. Sebelumnya, perusahaan yang dikendalikan oleh ibunya itu masih bekerja tanpa sistem. 

"Kalau mau maju  harus punya sistem, baik di bidang SDM, produksi maupun keuangan. Contohnya, dalam bidang keuangan harus punya sistem akuntansi yang baik agar kami jalan tidak seperti orang buta.  Kami harus tahu berapa omzet per bulan, berapa keuntungan per bulan dan sebagainya. Maksudnya, agar semuanya terkontrol dan dapat membuat cash flow dengan mudah. Selain itu, sistem dapat menghindari kita dari kekacauan dalam bekerja," ujar Asdwin.    


Selanjutnya, setelah semua berjalan on the track, Gasal Rinaldy Noor, adik Asdwin yang sebelumnya bekerja dalam bidang event organizer dan perusahaan periklanan, juga memberanikan diri berhenti bekerja dan bergabung untuk membesarkan usaha keluarganya.    

Asdwin mengatakan, pihaknya dengan dibantu ActionCoach, lembaga pelatihan bisnis, kini sedang giat membuat standarisasi untuk setiap proses bisnis di tempatnya.  Selain itu, juga tengah diupayakan untuk memperoleh hak paten merek Quamama dan sertifikat halal dari MUI. "Semua itu bermuara pada upaya kami untuk membesarkan bisnis ini, dengan menjual waralabanya kepada para investor yang berminat," kata Asdwin bersemangat. (hes) 

Siapkan Paket Puasa

Image    Meski menjelang bulan Ramadhan, harga gas dan bahan baku kue naik, Asdwin tidak mau bingung. Dia justru menyikapi situasi tersebut dengan positif. Kini, ia sedang menyiapkan materi promosi dengan kata-kata, "Meski harga barang semua naik, tapi kue Quemama tidak naik, tetap Rp 3.500."
    "Kami akan memanfaatkan situasi harga-harga naik untuk menggencarkan promosi Quemama. Kami memang nggak menaikkan harga. Harga semua kue di sini Rp 3.500 per buah. Jadi nggak masalah. Paling hanya keuntungan saja yang berkurang. Kami berharap dalam bulan Puasa ini, omzet kami akan naik tajam," ujar Asdwin. 
    

Dikatakan, selama bulan Ramadan, toko Quemama menyiapkan paket berbuka puasa. "Kue basah kami sangat cocok untuk berbuka puasa. Fresh dan kebersihan terjamin. Sekitar 90 persen produk kami hanya bisa bertahan satu hari. Kue yang sudah dua hari tidak dijual lagi," tuturnya.


 Menurut Asdwin, sebenarnya ibunya memiliki 200 resep kue basah. Namun yang diangkat sebagai produk Quemama hanya 19 macam dan  enam macam kue di antaranya wajib selalu tersedia di dalam toko. Salah satunya, Mama Soes  Stoberi. 
 

"Kami pilih hanya kue-kue yang paling sering dipesan orang. Nanti kalau keadaan sudah memungkinkan kami akan menambah jumlah kue yang dijual di sini," katanya.  
    

Dulu kue basah ini menjadi bagian dari bisnis katering. Namun, sekarang sudah dipisah. "Dulu kami hanya melayani pesanan. Sekarang, kalau ada pesanan, ibu mengalihkan untuk membeli saja di toko Quemama. Praktis," ujar Asdwin. (hes)

 

__._,_.___
Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Healthy Living

Learn to live life

to the fullest

on Yahoo! Groups.

Yahoo! Groups

Real Food Group

Share recipes

and favorite meals.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: