12 Mei, 2009

[resto-indonesia] Yuk mencicipi resto-resto baru



Yuk, Mencicipi Resto-resto Baru
 
    Minggu, 10 Mei 2009 | 08:25 WIB
    Akhir pekan mau jalan-jalan ke mana? Ini tentu pertanyaan yang sering muncul di benak orang-orang sibuk yang ingin menghabiskan akhir pekan dengan acara yang menyegarkan jiwa raga.

    Makan di luar menjadi pilihan utama kegiatan yang paling banyak dilakukan pada akhir pekan. Iyalah, yauw…! Ke mana pun kita pergi pada akhir pekan, pasti ada acara makan-makan.

    Nah, untuk makan di luar, yang seru adalah mencicipi restoran baru. Kalau restoran yang sudah eksis, tetapi belum pernah mencicipi, tentu kita sudah tahu bagaimana kira-kira rasanya. Jika melihat banyak antrean, tentu restoran itu enak dan patut dicoba. Namun, kalau restoran terlihat sepi pada jam makan, patut dipertanyakan, apa yang salah dari resto itu.

    Untuk restoran baru, pencinta kuliner tidak punya patokan sama sekali. Namun, bukan pencinta kuliner namanya kalau tidak berani mencoba. Ahli kuliner Rudy Choirudin pernah mengatakan, setiap bulan ada 1.000 restoran baru lahir di Jabotabek, tetapi yang tutup juga banyak.

    Banyaknya restoran yang tumbuh satu per satu akan diseleksi oleh alam melalui lidah pencinta kuliner. Jika pencinta kuliner suka sajian resto itu, mereka akan menjadi agen pemasaran paling ampuh.

    Tentu tidak sekadar rasa yang akan menjadi referensi pencinta kuliner. Atmosfer restoran, interior, tema, dan juga pelayanan akan menjadi bahan pertimbangan mereka. Maka, tidak heran restoran-restoran baru mengusung tema yang berbeda.

    Misalnya saja Pedal Bistro di kawasan Sudirman Central Business Distric (SCBD). Bistro yang menyajikan masakan Barat dan Indonesia ini lahir karena pemiliknya sangat gemar bersepeda. Semua interior di kafe ini adalah pernak-pernik sepeda.

    Kehadiran bistro bertema sepeda ini seolah senada dengan dua toko sepeda yang ada di dekatnya. "Kami memang penggemar sepeda. Setiap minggu kami bersepeda bareng keliling Jakarta. Selain itu, kami juga sering nongkrong bareng. Nah, daripada hanya nongkrong dan bingung mencari tempat nongkrong yang asyik, dibuatlah bistro ini," kata Farid Aidid, salah satu pemilik Pedal Bistro.

    Menu yang ditawarkan tidak banyak. Sebagian besar adalah menu kegemaran pencinta sepeda yang tergabung dalam Ikatan Penggiat Olahraga Sepeda Jakarta. "Kalau siang kami sediakan nasi goreng kampung, nasi goreng cumi, sop buntut. Tetapi kalau malam, kami menyediakan steik, pasta, dan makanan ala Barat," kata Farid.

    Farid yang mendirikan bistro itu bersama tiga kawannya, yakni Jenny, Perry, dan Adit, yakin restorannya bakal ramai. Alasannya, mereka sudah mempunyai pasar, yaitu komunitas penggemar sepeda dan para profesional yang bekerja di kawasan bisnis SCBD. Selain itu, koki masak yang mereka pekerjakan adalah koki berpengalaman dari resto-resto terkenal.

    Pada akhir pekan, kata Farid, pengunjung akan dihibur oleh musik hidup. Pengunjung juga bisa meminta lagu yang akan dinyanyikan. "Namanya juga tempat nongkrong. Kalau tidak ada musik, rasanya kurang pas," kata Farid.

    Khas Teo Chew

    Jika Pedal Bistro mengusung hobi sebagai magnet, lain lagi dengan restoran Teo Chew Palace. Restoran yang terletak di lantai dasar The Pluit Village (dahulu Mall Pluit) ini menyajikan masakan tradisi Tiochiu, salah satu suku di China. Di Indonesia, suku Tiochiu banyak berdomisili di Pontianak, Kalimantan Barat.

    Resto yang belum genap berusia sebulan ini, kata Rick Loo, General Manager Teo Chew Palace, menawarkan sekitar 200 menu masakan. Dimsum boleh menjadi awal santapan. Lalu, masuk ke masakan lain, seperti sup sayur bayam yang digiling halus lalu dicampur dengan daging ayam cincang menjadi andalan restoran ini. Penyajian menu ini sangat menarik karena di dalam satu wadah sup seolah tersaji secara terpisah.

    Gilingan sayur berwarna hijau pekat dengan ayam cincang bak dimasak terpisah, padahal hanya terpisah garis warna hijau dan putih dan membentuk lambang "Yin-Yang", yang berarti keseimbangan. Rasanya?

    Lalu, ada lagi tim ayam dan jamur cincang yang dibungkus dengan kulit putih telur. Kulit putih telur ini terasa spesial karena biasanya, untuk membungkus ayam dan jamur cincang, masakan china memakai kulit lumpia atau pangsit. Rasanya tentu berbeda. Kulit putih telur terasa lebih garing dan gurih.

    Yang menarik lagi adalah mi kuning goreng garing. Sekilas mengingatkan dengan mi instan digoreng garing setelah direbus. "Mi yang kami gunakan tentu berbeda, bukan mi instan, tetapi ifumi yang lebih lembut dan kecil," kata Rick.

    Cara makan mi goreng garing ini juga menarik karena sebelum disantap diberi taburan gula dan cuka apel. Rasanya, rame!

    Ada beberapa menu makanan penutup, seperti talas manis dengan gingko. Rasa manis talas ungu yang dihaluskan itu pas di lidah. Sementara biji gingko berwarna kuning kehijauan terasa kenyal. Menurut Rick, orang Tiochiu biasanya menyebut makanan ini dengan oni. Dan, memang disantap sebagai makanan penutup.

    Makanan ini cukup enak, tetapi sayang disajikan sebagai makanan penutup. Sungguh, ingin menyantap habis talas ini, tetapi sayang perut sudah tidak muat lagi… kenyang boo!
     
    http://travel.kompas.com/read/xml/2009/05/10/08255441/Yuk..Mencicipi.Resto-resto.Baru
     
     
    Please add my Facebook:
    Radityo Indonesia
    Mediacare Indonesia

    __._,_.___
    Recent Activity
    Visit Your Group
    Give Back

    Yahoo! for Good

    Get inspired

    by a good cause.

    Y! Toolbar

    Get it Free!

    easy 1-click access

    to your groups.

    Yahoo! Groups

    Start a group

    in 3 easy steps.

    Connect with others.

    .

    __,_._,___

    Tidak ada komentar: